Netizen Ingatkan Bahaya Adu Domba SARA Demo 2025 – Isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) kembali mencuat di ruang publik Indonesia. Demo besar pada tahun 2025 yang berlangsung di sejumlah daerah menimbulkan keprihatinan setelah muncul isu provokatif yang menyasar kelompok etnis tertentu, termasuk komunitas Tionghoa. Kondisi ini langsung memicu respons cepat dari netizen yang ramai-ramai mengingatkan masyarakat agar tidak mau diadu domba dengan isu identitas yang berpotensi memecah belah bangsa.
Kekhawatiran tersebut wajar. Indonesia memiliki sejarah kelam pada tahun 1998, ketika konflik sosial bernuansa SARA meluas dan menimbulkan korban jiwa serta trauma mendalam. Kini, di era digital, pola adu domba bisa terjadi lebih cepat melalui media sosial.
Peringatan dari Sejarah 1998
Kerusuhan Mei 1998 masih meninggalkan luka bagi bangsa Indonesia. Kala itu, isu SARA menjadi salah satu faktor yang memperkeruh situasi politik dan ekonomi. Banyak komunitas, termasuk etnis Tionghoa, menjadi korban diskriminasi, penjarahan, hingga kekerasan yang terorganisir.
Peristiwa tersebut tidak hanya memengaruhi stabilitas nasional, tetapi juga meninggalkan trauma sosial bagi generasi berikutnya. Oleh karena itu, banyak netizen menekankan bahwa tragedi serupa tidak boleh terulang. Sejarah harus menjadi pengingat bahwa adu domba berbasis SARA selalu membawa kehancuran, bukan solusi.
Era Digital dan Ancaman Baru
Jika tahun 1998 provokasi dilakukan melalui selebaran dan desas-desus di lapangan, kini media sosial menjadi arena baru adu domba.
Ada beberapa faktor yang membuat isu SARA lebih berbahaya pada 2025:
-
Penyebaran Instan
Unggahan di X (Twitter), TikTok, Instagram, atau Facebook bisa menyebar dalam hitungan menit ke jutaan pengguna. -
Manipulasi Visual
Teknologi deepfake, edit video, dan gambar palsu sering digunakan untuk memanipulasi fakta. -
Akun Anonim dan Bot
Banyak akun palsu menyebarkan ujaran kebencian, membuat isu tampak lebih besar dari kenyataan. -
Kurangnya Literasi Digital
Tidak semua pengguna internet memiliki kemampuan kritis untuk membedakan fakta dan hoaks.
Netizen Ramai-Ramai Ingatkan Persatuan
Munculnya narasi yang menyasar etnis Tionghoa dalam demo 2025 memicu gelombang peringatan dari netizen. Banyak warganet yang menuliskan pesan serupa di media sosial:
-
“Jangan ulangi 1998, kita sudah cukup belajar.”
-
“Demo boleh, tapi jangan bawa SARA.”
-
“Indonesia kuat karena keberagaman, bukan perpecahan.”
Tagar-tagar seperti #TolakProvokasi, #JanganMauDiaduDomba, hingga #IndonesiaDamai sempat ramai digunakan untuk mengimbangi narasi provokatif yang beredar.
Mengapa Komunitas Tionghoa Sering Jadi Sasaran?
Dalam banyak momen politik dan sosial, etnis Tionghoa kerap dijadikan kambing hitam. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain:
-
Stereotip Ekonomi: Komunitas Tionghoa sering dikaitkan dengan dominasi ekonomi, meski tidak sepenuhnya benar.
-
Politik Identitas: Isu perbedaan ras lebih mudah dimanfaatkan untuk memecah belah massa.
-
Sejarah Diskriminasi: Kebijakan masa lalu yang diskriminatif membuat isu ini lebih mudah dihidupkan kembali.
Padahal, komunitas Tionghoa telah lama menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia, berkontribusi di bidang ekonomi, budaya, hingga politik.
Peran Pemerintah dan Aparat
Pemerintah dan aparat keamanan harus bertindak cepat untuk mencegah isu SARA berkembang menjadi konflik horizontal. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-
Monitoring Media Sosial
Mengidentifikasi akun penyebar provokasi dan hoaks agar tidak memperkeruh situasi. -
Edukasi Publik
Memberikan informasi yang jelas dan transparan agar masyarakat tidak terjebak dalam narasi palsu. -
Menegakkan Hukum
Tidak ragu menindak pelaku provokasi, baik di dunia nyata maupun digital.
Literasi Digital Jadi Benteng Utama
Masyarakat kini dituntut lebih cerdas dalam menyikapi isu-isu sensitif. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
-
Cek Fakta Sebelum Sebar
Jangan langsung percaya pada video atau berita viral sebelum memverifikasi sumbernya. -
Hindari Ujaran Kebencian
Tidak ikut berkomentar negatif yang bernuansa SARA. -
Sebarkan Pesan Positif
Narasi damai lebih penting daripada memperbesar konflik. -
Laporkan Konten Provokatif
Gunakan fitur report di media sosial untuk menekan penyebaran hoaks.
Bahaya Adu Domba di Tahun Politik
Demo 2025 terjadi di tengah dinamika politik yang panas. Sejarah menunjukkan bahwa tahun politik selalu menjadi momen rawan adu domba. Isu SARA sering dipakai untuk meraih simpati atau memecah suara publik.
Masyarakat perlu menyadari bahwa konflik berbasis identitas hanya menguntungkan segelintir pihak. Jika bangsa terpecah, yang dirugikan justru rakyat banyak.
Menjaga Indonesia Tetap Utuh
Indonesia adalah negara dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan suku, agama, ras, dan budaya seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk terpecah.
Peringatan dari netizen agar tidak mau diadu domba adalah alarm penting. Jangan sampai sejarah kelam 1998 kembali berulang hanya karena masyarakat lengah menghadapi provokasi.
Kesimpulan
Isu SARA dalam demo 2025 yang menyasar etnis Tionghoa menjadi peringatan serius bagi bangsa Indonesia. Netizen yang saling mengingatkan agar tidak terjebak provokasi menunjukkan bahwa kesadaran kolektif masyarakat sudah semakin matang.
Sejarah 1998 harus selalu diingat agar tidak ada lagi korban akibat adu domba. Di era digital, literasi, kewaspadaan, dan persatuan menjadi kunci menjaga bangsa dari perpecahan.
Indonesia hanya bisa maju jika tetap bersatu dalam keberagaman.




